Karya Agung Melaspas dan Ngeteg Linggih, Momentum Rekatkan Kebhinekaan

0
197
Karya Agung Melaspas dan Ngeteg Linggih
Karya Agung Melaspas dan Ngeteg Linggih d Birowo, Binangun

Info Biltar – Indonesia terdiri dari beragam suku, agama budaya dan adat istiadat yang berbeda. Hal ini juga terjadi di Kabupaten Blitar. Kabupaten dengan julukan Seribu Candi ini, masyarakatnya dari beragam agama dan suku. Mereka tetap hidup berdampingan, menjaga situasi di masyarakat tetap kondusif. Namun, yang harus kembali dikobarkan adalah semangat gotong royong, mengingat gotong royong yang notabene adalah warisan leluhur sudah mulai pudar. Hal ini disampaikan oleh Bupati Blitar, Drs. H.Rijanto, MM dalam sambutannya pada acara Karya Agung Melaspas dan Ngeteg Linggih di Desa Birowo Kecamatan Binangun, Selasa (11/4).

Orang nomor satu di Kabupaten Blitar ini juga mengingatkan, agar masyarakat lebih hati-hati, selektif dalam menanggapi pemberitaan. Banyak beredar berita hoax atau berita bohong. Sehingga ini harus benar-benar difilter. Harapannya, masyarakat tidak mudah terpancing berita bohong, masyarakat lebih bijaksana. Selain itu, Bupati Blitar juga mengingatkan supaya masyarakat hati-hati dengan paham radikalisme. Paham ini merusak persatuan dan kesatuan yang sudah terbangun sejak dahulu. Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) dan tiga pilar yang lain hendaknya aktif melakukan sosialisasi kewaspadaan dini kepada masyarakat. Masyarakat harus segera melapor jika ditemukan gejala adanya paham radikalisme. Selain harus waspada terhadap paham radikalisme, Bupati Blitar menekanakan agar seluruh lapisan masyarakat menjauhi narkoba. Juga menekan tindakan pelecehan seksual.

Sementara itu, Lestari, Ketua Parasida Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Blitar mengungkapkan, Pura Dharma Santi dibangun sejak 1968. Dan kegiatan Karya Agung Melaspas dan Ngeteg Linggih ini merupakan kali pertama dilaksankan di pura tersebut. Seperti diketahui, penganut agama hindu di di Desa Birowo sekitar 50 KK, namun hidup rukun berdampingan dengan agama lain. Menurut Lestari, melalui kegiatan ini, kedamaian, kerukunan yang menyejukkan harus dipertahankan. Ketua PHDI ini juga menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Agama, Pemerintah Kabupaten Blitar dan donatur yang telah memberikan bantuan untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan umat Hindu di Blitar.

Ditempat yang sama, Drs. Yulianto, MM, penyuluh agama Hindu dalam dharma wacana menyampaikan tentang kepemimpinan. Menurutnya, dalam Agama Hindu mengajarkan mengenai asas kepemimpinan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang disebut dengan ajaran ASTA BRATA. “Asta” yang artinya delapan dan “Brata” yang artinya pegangan atau pedoman. Ajaran Asta Brata ini terdapat dalam kekawin Ramayana yang diubah oleh pujangga Walmiki. Isi dari Astha Brata yaitu, Laku Dewa Indra artinya pemimpin itu selalu memikirkan nasib anak buahnya, selalu bekerja untuk mencapai kemakmuran masyarakat secara menyeluruh. Laku Dewa Yama artinya pemimpin haruslah berlaku adil terhadap seluruh pengikut yang ada dengan menghukum segala perbuatan yang jahat dengan menjatuhi hukuman yang sesuai dengan besarnya kesalahan mereka dan menghargai perbuatan yang baik. Surya Brata diartikan seorang pemimpin dalam tugasnya harus dapat memberikan penerangan kepada anak buahnya atau bawahannya serta memberikan kekuatan kepadanya. Candra Brata tersimpul bahwa seorang pemimpin diharapkan memberikan penerangan yang sejuk dan nyaman. Bayu Brata, pemimpin harus dapat mengetahui segala hal ikhwal dan pikiran anak buahnya, sehingga dapat mengerti lebih dalam, terutama dalam kesukaran hidupnya maupun dalam menjalankan tugasnya, namun tidak perlu diketahui oleh anak buah. Kuwera Brata, pemimpin haruslah dapat memberikan contoh yang baik kepada anak buahnya seperti berpakaian yang rapi sebab pakaian itu besar sekali pengaruhnya terhadap seorang bawahan. Baruna Brata, seorang pemimpin hendaknya mempunyai pandangan yang luas dan bijaksana didalam menyikapi semua permasalahan yang ada. Pemimpin mau mendengarkan suara hati atau pendapat anak buah dan bisa menyimpulkan secara baik, dan Agni Brata pemimpin haruslah mempunyai semangat yang berkobar-kobar laksana agni dan dapat pula mengobarkan semangat anak buah yang diarahkan untuk menyelesaikan segala pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.

Baca juga  Pagelaran Pencak Dor di Nglegok

Untuk itu dia mengingatkan, seorang pemimpin harus menegakkan dharma. Bisa menyatu dengan rakyat. Dia juga berpesan, bagi kaum perempuan harus menjaga cara berpakaian yakni pakaian yang santun dan tidak mengundang kejahatan. Menurutnya wanita sosok yang bisa menjadi pelita namun juga bisa menjadi sumber petaka.

Kegiatan Karya Agung Melaspas dan Ngeteg Linggih di Desa Birowo Kecamatan Binangun yang juga dihadiri Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, Kepala Bagian Kesra Pemerintah Kabupaten Blitar, Camat Binangun, Muspika dan seluruh Kepala Desa di Kecamatan Binagun ini berlangsung khidmad sekaligus meriah. Didukung Paguyuban Karawitan Kidung Suci Pawiyatan Ngudilaras Hindu Dharma, sendra tari dari Kalipare Malang. Kegiatan yang kali pertama dilaksanakan di Pura Dharma Santi ini dibarengi dengan peresmian pura tersebut. Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Bupati Blitar.(Humas)