Infoblitar.com — Manajemen SPBU Kebonrojo angkat bicara soal kabar penimbunan BBM jenis Pertalite yang beredar setelah inspeksi mendadak (sidak) Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bersama Polres Blitar, Senin (19/10/2026). Pihak SPBU menyebut narasi penimbunan itu tidak sepenuhnya benar.
Manajer Operasional SPBU Kebonrojo, Hermawan, mengatakan yang selama ini dilakukan pihaknya bukan menimbun, melainkan mengatur penjualan agar antrean tidak mengular dan semua konsumen bisa mendapatkan Pertalite.
“Kemarin yang dinarasikan adalah kita menimbun BBM jenis Pertalite. Padahal yang kita lakukan adalah mengatur antrean agar tidak mengular, mengatur penjualan agar semua konsumen merasa bisa mendapatkan,” ujarnya saat ditemui di SPBU Kebonrojo, Selasa (20/10/2026).
Ia menjelaskan, stok yang dikirim Pertamina sebenarnya bisa saja langsung dijual habis pada pagi hari. Namun hal itu berisiko menimbulkan antrean sangat panjang hingga mengganggu arus lalu lintas, mengingat area antre di SPBU Kebonrojo tidak terlalu luas.
“Antre sedikit saja sudah sampai jalan raya. Kita menghindari itu, takutnya ada kecelakaan atau kejadian lain di sekitar SPBU,” katanya.
Karena itu, pihaknya membuat kebijakan penjualan Pertalite dalam tiga shift. Tujuannya agar konsumen tidak menumpuk di pagi hari, dan mereka yang berangkat kerja atau sekolah pagi masih bisa membeli pada shift siang atau sore.
“Di dekat sini ada SMK, banyak adik-adik bawa motor yang perlu isi BBM. Kalau pagi mereka terburu-buru sekolah. Dengan shift, mereka bisa beli pas pulang atau pas shift kedua,” jelasnya.
Soal istilah menimbun
Hermawan mengaku menyayangkan munculnya narasi penimbunan. Menurutnya, menimbun berarti menerima BBM lalu tidak menjualnya dan menunggu harga naik.
“Nimbun menurut pengertian kami adalah kita terima BBM dan kita tidak jual, kita jual pas harga naik. Nah itu nimbun. Tapi kita dalam 24 jam, dalam tiga shift, itu ada penjualan sesuai dengan BBM yang kita terima,” tegasnya.
Ia menambahkan, penjualan BBM subsidi diawasi ketat oleh Pertamina. Seluruh SPBU sudah terintegrasi secara online, sehingga data penerimaan dan penjualan tidak bisa dimanipulasi.
“Datang berapa, yang kita jual berapa, rinciannya, jamnya berapa, nilainya berapa, itu terekam di mesin ATG dan online bisa diawasi Pertamina. Kalau kami melakukan hal di luar kewajaran, tanpa perlu sidak pun Pertamina akan memberi sanksi,” ucapnya.
Menurut Hermawan, dijual bertahap maupun langsung habis tidak mengubah tonase dan harga yang disalurkan, karena semuanya mengacu pada pengiriman yang diterima dari Pertamina.
Ikuti permintaan Disperindag
Meski begitu, pihaknya menyatakan mengikuti permintaan Disperindag saat sidak agar stok yang ada dijual langsung tanpa pembagian shift.
“Kalau permintaan Disperindag kemarin dijual los, monggo, kita lakukan. Semalam dapat kiriman, langsung kita jual. Pagi tadi sekitar pukul 07.20 sudah habis, baru pukul 09.10 datang kiriman lagi dan bisa jualan lagi,” katanya.
Ia menyebut konsekuensinya adalah pembeli yang biasa antre pagi menjadi tidak kebagian hingga kiriman berikutnya tiba.
Imbau warga tidak panic buying
Hermawan juga mengimbau masyarakat tidak terpancing membeli berlebihan karena melihat antrean atau pemberitaan dari daerah lain. Menurutnya, kondisi di Blitar Raya relatif lebih aman dibanding daerah lain di Jawa Timur.
“Yang tidak butuh ikut antre, yang biasanya cukup Rp20 ribu sampai Rp50 ribu untuk beberapa hari jadi isi full. Akhirnya BBM subsidi tidak bisa dinikmati merata oleh yang benar-benar membutuhkan setiap hari,” ujarnya.
Ia memastikan pasokan Pertalite dari Pertamina tetap ada, meski kadang terjadi keterlambatan pengiriman karena kendala teknis di perjalanan.
“Yang ingin kami sampaikan ke masyarakat adalah kepastian. Pasti ada. Kalau perkara antre ya pasti antre, tapi tidak perlu panik,” pungkasnya. (red)